CEO Note: Murah Yang Membuat Marah

Para pembaca sekalian, saya yakin banyak sekali pertanyaan yang timbul di benak masing-masing kenapa kok banyak sekali istilah dalam kelistrikan di Indonesia ini, padahal pola pikir kita pada awalnya apapun yang berhubungan dengan listrik selalu ditangani oleh PLN!!

Memang listrik di Indonesia dikelola oleh sebuah BUMN tunggal bernama PLN dan bahkan jika menyebut listrik pasti kita kaitkan dengan PLN tidak terkecuali. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, nah bagaimana sebenarnya yang terjadi dan pembagian kerjanya silahkan dibaca di dalam CEO Note yang ditulis langsung oleh Dirut PLN Bapak Dahlan Iskan, kali ini beliau menuliskan tentang pengalamannya di Madura, dimana beliau diprotes oleh masyarakat karena Biaya Penyambungan sekarang kok makin murah?? Nah lho, ada apa gerangan? silakan disimak, dan saya tunggu komentarnya..ūüôā

Murah yang Membuat Marah

Oleh Dahlan Iskan

He he … ternyata ada juga yang tidak senang dengan diturunkannya biaya penyambungan listrik sekarang

ini. Di Blega, Madura, sejumlah orang demo ke PLN setempat. Demo itu menghebohkan karena sempat

memblokir jalan utama trans Madura. DPRD Bangkalan pun turun tangan dan memanggil pejabat PLN
setempat. Di forum yang terhormat itu sampai keluar kata-kata kasar dari yang terhormat untuk PLN.

Tuntutan pendemo itu kelihatannya memang sangat masuk akal mereka. Inilah aspirasi mereka: ‚ÄúKalau sekarang bisa begitu murah, berarti yang dulu-dulu itu kemahalan. PLN harus mengembalikan uang selisih kemahalan yang dulu-dulu itu‚ÄĚ. Begitu logika mereka.

Di seluruh Indonesia orang memang kaget melihat murahnya biaya penyambungan sekarang. Tapi hanya
di Madura itu yang menuntut pengembalian uang kemahalan di masa lalu. Di Madura pun hanya terjadi di
Blega itu.

Padahal  sebenarnya  PLN  tidak  menurunkan  biaya  penyambungan.  Bahkan  sedikit  menaikkannya.

Terutama untuk permintaan penyambungan dengan daya agak besar. Yang kami dilakukan hanyalah: menerapkan tarif resmi itu apa adanya. Tidak boleh ada embel-embelnya. Apa pun istilahnya. Maka kelihatannya lantas seperti turun drastis.

Dulu, kata mereka, untuk mendapat sambungan listrik harus membayar Rp 2 juta, Rp 2,5 juta bahkan sampai Rp 4 juta. Kok sekarang, untuk beban yang sama hanya Rp 650 ribu. Kaget yang berlebihan kelihatannya memang tidak baik. Bisa membuat orang demo seperti di Blega itu.

Di  samping  hanya  mengenakan  tarif  resmi,  PLN  kini  juga  tidak  mau  mencampur-adukkan  biaya
penyambungan dengan biaya-biaya lain yang mungkin dikenakan kepada calon pelanggan. Hanya biaya

penyambunganlah (biasa disingkat BP) yang terkait dengan PLN. Kalau ada biaya-biaya lain itu di luar

ranah PLN dan mestinya jangan dikaitkan dengan PLN.

Dalam hal melakukan penyambungan, tugas PLN itu sebenarnya terbatas. Tidak masuk akal kalau harus minta biaya yang jutaan. Untuk penyambungan baru, tugas PLN itu hanyalah menarik kabel tegangan rendah dari jaringan PLN ke atap rumah, lalu memasang meteran dan memasang mini circuit breaker (MCB). Habis. Berarti listrik sudah tersambung dan siap dipergunakan. Soal bagaimana menggunakannya, perlu berapa bola lampu, kamar mana saja, berapa buah stop kontak, itu bukan urusan PLN. Bukan tugas PLN untuk memasang kabel-kabelnya, stop kontaknya, lampunya dan segala macam yang ada di rumah tersebut. Itu tugas pemilik rumah sendiri. Itu sudah menyangkut kebutuhan pemilik rumah yang skala keperluannya berbeda-beda.

Pemilik rumah/kantor biasanya tidak memiliki kemampuan melakukannya sendiri. Mereka umumnya minta bantuan kontraktor listrik. Itu terserah sepenuhnya kepada pemilik rumah. Mau cari kontraktor yang murah atau mahal PLN tidak boleh campur tangan.

Entah mau dikerjakan sendiri atau minta bantuan kontraktor, yang jelas instalasi di rumah-rumah

tersebut tidak boleh sembarangan. Ada aturannya. Bukan aturan dari PLN tapi dari pemerintah. Untuk
itu ada lembaga yang mengontrol apakah jaringan di dalam rumah tersebut sudah benar atau belum.
Lembaga itu bernama KONSUIL  (Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik). Bukan PLN.
Lembaga KONSUIL itu dibentuk oleh pemerintah. Tidak ada hubungan sama sekali dengan PLN.

Tapi masyarakat umumnya memang salah duga. Semua itu dikira masih kalangan PLN. Pokoknya semua

hal yang berkaitan dengan listrik dikira tugas dan tanggungjawab PLN.

Anggapan  salah  masyarakat  itu  sebenarnya  tidak  salah-salah  amat.  Orang-orang  yang  ditunjuk pemerintah untuk duduk di KONSUIL, misalnya, umumnya pensiunan karyawan PLN.  Petugas-petugas kontraktor listrik pun penampilan dan gayanya tidak berbeda dengan orang PLN. Apalagi alat-alatnya. Persis milik PLN.

Di masa lalu memang ada semangat agar semua lembaga yang terkait dengan listrik bekerja sama
dengan sebaik-baiknya. PLN sendiri pernah memberikan fasilitas agar mereka itu berkantor saja di PLN!
Pembayaran-pembayaran untuk mereka sekalian saja dijadikan satu dengan biaya untuk PLN. Begitu erat

hubungan itu sehingga ada istilah sudah dan harus seperti suami-isteri.

Inilah yang berubah sekarang. Hubungan itu tidak boleh seperti suami-isteri. Hubungan antara PLN, kontraktor listrik dan KONSUIL haruslah hubungan profesional.

Dari sinilah lantas diketahui berapa sebenarnya biaya penyambungan yang dikenakan PLN itu. Lalu banyak yang kaget-kaget. Lalu ada yang demo seperti yang di Blega itu. Namun kalau saya Minggu pagi lalu ke Blega, itu bukan hanya karena ada masalah kekagetan itu. Kebetulan saya memang ingin melakukan klarifikasi banyak hal yang selama ini mengganjal di hati. Misalnya, mengapa susut listrik (kehilangan listrik) di Madura itu yang tertinggi di Indonesia.

Saya sungguh tidak enak mendengarnya. Prosentase susut listrik di Madura  mencapai 20%. Padahal di

kabupaten-kabupaten lain di Jawa hanya sekitar 7%. Saya sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya

terjadi. Saya tidak percaya hal itu merupakan wajah Madura yang sebenarnya.

Besarnya susut listrik di Madura itu sebagian ternyata memang karena struktural. Lima gardu induk (GI) yang ada di Madura, semuanya di pantai selatan. Akibatnya untuk penduduk sepanjang pantai utara harus dikirimi listrik dari jaringan 20 kV. Kalau di pantai utara dibangun satu atau dua GI, susut itu sudah akan turun sekitar 5 % sendiri. Jaringan kabel 20 kV yang terlalu panjang memang menjadi salah satu penyebab susutnya daya listrik.

Masih ada yang lebih mendasar lagi. Hampir  100% pelanggan listrik di Madura adalah rumah tangga.

Pelanggan besar yang dilayani dengan tegangan menengah (TM) hanya 0,9%. Kalau saja ada pabrik yang

cukup besar di Madura komposisi pelanggan akan berubah dan susut listrik bisa membaik. “Kalau ada beberapa pabrik yang mampu menyerap listrik 40 MW saja, susut listrik bisa turun lagi 5%,” ujar Bintoro, Manajer APJ Madura. “Atau kalau satu pabrik semen saja berdiri di Madura sudah bisa memperbaiki struktur listrik di Madura yang lemah,” tambahnya.

Maka saya akan mengusahakan berdirinya GI di pantai utara Madura. Sekaligus untuk antisipasi siapa tahu

para bupati di Madura benar-benar akan mengembangkan kawasan itu sebagai pusat pengembangan ekonomi. Apalagi PLN sudah memutuskan untuk membangun pembangkit listrik besar di situ yang sekarang tahapnya tender proyek.

Ada agenda lain yang tidak sempat saya lihat di Madura. Yakni melihat layang-layang Madura. Bulan-bulan
ini adalah musim layangan yang paling top di Madura. Ribuan jumlahnya. Besar-besar ukurannya. Menarik
desainnya. Dan di waktu malam lebih-lebih lagi menakjubkannya: layang-layang itu berlampu! Ada lampu
LED di setiap mainan itu. Betapa banyaknya kerlip lampu di langit. Mengalahkan jumlah bintang yang ada.

Di musim layang-layang seperti ini teman-teman PLN Madura pusing kepala. Kian besar layangnya kian berat

pusingnya. Di larut malam, ketika angin sudah surut banyak layangan yang hinggap ke jaringan listrik.

Terjadilah gangguan di mana-mana.

Ada ide agar Pemda mengeluarkan larangan main layang-layang. Saya tidak setuju dengan ide itu. Kepada teman-teman di Madura saya anjurkan justru PLN harus mengadakan lomba layang-layang secara besarbesaran. Kalau perlu memperebutkan Piala Dirut PLN! Soal ancaman gangguan listrik harus dicarikan cara yang lebih cerdas. Dalam lomba itu bisa saja sekaligus dilombakan bagaimana mendesain layang-layang yang aman bagi listrik. Pasti akan banyak yang menyumbangkan ide itu.

Sebelum meninggalkan Blega saya bertanya kepada manajer PLN Madura. Anaknya muda, tinggi (185 cm), ganteng dan bicaranya firm. Lulusan fakultas teknik elektro Universitas Diponegoro ini pernah 2 tahun bertugas di Madura dan kini kembali ke Madura lagi dalam posisi memimpin.

Berikut ini dialog saya dengan Bintoro:

–¬† Apakah Anda menyesal telah menerapkan tarif biaya penyambungan yang murah itu? + Tentu tidak pak.

–¬† Tapi kan menimbulkan demo?

+ Demo itu baik juga pak. Biar orang tahu bahwa biaya penyambungan itu sebenarnya tidak semahal itu.

–¬† Tapi bagaimana dengan permintaan uang kembali itu?

+ Akan saya anjurkan agar mereka minta saja kepada siapa dulu dia membayar. –¬† Kalau mereka bilang membayarnya kepada orang PLN?

+ Tunjukkan saja siapa orangnya. Biar saya pecatnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s